Webinar Bidang Fokus Energi : Akselerasi Hilirisasi Inovasi Teknologi Bidang Energi dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional

21. 03. 05
posted by: Lanjastek
Dilihat: 208

 Paparan B2TKE Energi BT 001

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 2021 dengan tema “Membangun Ekosistem Teknologi di Berbagai Bidang Fokus Kegiatan di BPPT telah dimulai Kamis 4 Maret 2021. Pada bidang energi, BPPT menekankan dua fokus Program Prioritas Riset Nasional (PRN) yakni Panas bumi sebagai solusi permasalahan ketenagalistrikan serta bahan bakar nabati sebagai alternatif substitusi impor Bahan Bakar Minyak untuk mendukung target Energi Baru dan Terbarukan (EBT) 23% pada tahun 2025. Tidak kalah pentingnya, pada rakernas tersebut juga terdapat pembahasan mengenai  pemanfaatan Pembangkit energi terbarukan lainnya yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Hadir sebagai penanggap kedua penyaji paparan yaitu Linus Andor Mulana Sijabat (Direktur Strategi Bisnis dan Portofolio PT LEN Industri (Persero), Roni Chandra Harahap (Kepala Subdit Keteknikan dan Lingkungan Panas Bumi, Ditjen EBTKE Kementerian ESDM), Efendi Manurung (Koord. Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi, Ditjen EBTKE Kementerian ESDM) serta Kepala PPIMTE-BPPT, Andhika Prastawa sebagai moderator.

rakernas1Eniya Listiani Dewi, Deputi Kepala BPPT Bidang TIEM membuka kegiatan ini dengan sambutannya yang menyebutkan bahwa sektor energi menjadi salah satu tumpuan dalam menggerakkan perekonomian nasional. BPPT memiliki peran pada pengembangan EBT Panas Bumi di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya sebesar 23,9 GW. Panas bumi menjadi fokus yang menarik karena EBT ini tidak tergantung kepada bahan bakar fosil, cuaca, dan musim. Hal ini membuat harga listrik panas bumi cenderung stabil. Selain itu, panas bumi menjadi pilihan EBT yang dapat menjadi baseload suplai listrik di suatu daerah dengan kadar emisi CO2 hanya 10% dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara sehingga lebih ramah lingkungan.

rakernas day1Kepala B2TKE, Barman Tambunan dalam paparannya menyebutkan bahwa peningkatan pemanfaatan EBT membutuhkan dukungan kebijakan, industri, serta keinginan masyarakat. Dengan adanya fenomena biaya EBT yang cenderung lebih mahal jika dibandingkan dengan energi konvensional, BPPT berusaha untuk menekan biaya tersebut dengan kegiatan kerekayasaan dan kliring teknologi.

Peran BPPT pada panas bumi dimulai sejak tahun 2009 dengan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) condensing maupun binary cycle. Pilot plant PLTP 3 MW Kamojang dengan teknologi condensing berhasil dibangun dengan melibatkan mitra industri Badan Usaha Milik Negara yaitu industri turbin PT. Nusantara Turbin dan Propulsi, industri generator PT. Pindad dan industri mekanikal PT. Boma Bisma Indra. PLTP 3 MW Kamojang telah terhubung jaringan PLN 20 kV dengan mengikuti fluktuasi beban jaringan yang ada. Selain itu pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 63% telah memenuhi regulasi Kementerian Perindustrian bahwa  PLTP wajib memenuhi unsur TKDN minimal 42%.

Rakernas day1 2Selain itu BPPT pun memiliki pemanfaatan EBT lain yang tersebar di beberapa titik di Indonesia. Pada wilayah timur, terdapat PLTP 500 kW di Lahendong, Sulawesi Utara serta smart grid fotovoltaik 700 kWp di Bilacenge, Sumba Barat Daya. Kedua pembangkit tersebut telah beroperasi kontinu lebih dari 2 tahun. Sedangkan di Wilayah barat, BPPT memiliki PLTP 3 MW di Kamojang, Garut serta fotovoltaik atap di Kawasan Puspiptek, Serpong dengan kapasitas 100 kWp. Fasilitas Baron Technopark milik B2TKE di Yogyakarta pun telah memanfaatkan fotovoltaik dan angin.

Lebih lanjut, kiprah BPPT pada pemanfaatan EBT terus berlanjut. Pada tahun 2020 telah dilakukan Designed Engineering Detail (DED) PLTP modular 2x3 MW yang rencananya akan beroperasi di Sibayak, Sumatera Utara. Pembangunan PLTP tersebut ditargetkan selesai dalam pada akhir tahun 2023 dan akan berlanjut dengan pengujian kehandalan sistem pada tahun 2024. BPPT pun memiliki Laboratorium pengujian untuk modul surya (LPKMF) dan sistem PLTS (LPKSF) yang diharapkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu komponen PLTS (SNI wajib yang bekerjasama dengan LSPro).

Paparan BBN Rakernas BPPT 2021 002Pada webinar ini, dilakukan juga pembahasan mengenai prospek bahan bakar di Indonesia. Kepala Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain, Arie Rahmadi dalam paparannya menyatakan bahwa volume konsumsi bahan bakar Indonesia per tahun terbesar adalah Gasoline (premium) sebesar 34.4 juta Kl (impor sebesar 18.5 juta Kl), Gasoil (solar) sebesar 31.1 juta Kl (impor sebesar 6.6 juta Kl), LPG sebesar 7.6 juta ton (impor 5.6 juta ton).

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah meluncurkan program B30 pada akhir 2019 yang berhasil menghemat 9 juta Kl atau setara devisa Rp. 60 Trilyun per tahun akibat impor solar.  Namun demikian permasalahan teknis B30 saat transportasi, blending dan distribusi ke seluruh Indonesia memiliki tantangan akibat sifat Biodiesel yang higroskopis, heating value yang lebih rendah serta infrastruktur blending dan penyimpanan yang belum memadai. Disisi lain, minyak sawit sebagai sumber feedstock BBN saat ini diperkirakan tidak akan cukup untuk memenuhi BBN baik untuk biodiesel maupun green fuel (Green diesel, green gasoline dan green LPG).

Oleh karena itu, BPPT melakukan Program Prioritas Riset Nasional (PRN) Bahan bakar Nabati untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan tujuan tiga research output (RO) yaitu Menjamin kualitas B30, Bahan Baku Green Fuel dari Perkebunan Energi serta. Pilot Plant FCC Kapasitas 3000 kg/hari.

Rakernas day1 3