Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

B2TKE dan TUV Rheinland Sinergikan Persiapan Sertifikasi Produk Modul Surya di Indonesia

20. 06. 11
Dilihat: 142

Verifikasi TUV RheinlandRabu (10/6) Tim Auditor TUV Rheinland Indonesia lakukan verifikasi kesiapan Laboratorium Pengujian Kualitas Modul Fotovoltaik (LPKMF) di Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE). Sebagai laboratorium uji kualitas produk modul surya pertama di Indonesia, B2TKE fokus mempersiapkan LPKMF untuk memberikan layanan prima bagi pengguna, baik dari dalam maupun luar negeri.

Membuka agenda verifikasi, Kepala Bidang Layanan Jasa Teknologi B2TKE Andri Subandriya menyatakan, "LPKMF sebagai satu-satunya lab uji modul PV di Indonesia siap memberikan layanan jasa, untuk itu proses akreditasinya harus kita kawal bersama". Langkah verifikasi ini juga disampaikan Andri, merupakan bahan masukan bagi B2TKE untuk memotret kesiapan laboratorium dalam memberikan layanan.

Deny Cramer, Technical Auditor TUV Rheinland Indonesia yang bertugas menyampaikan bahwa agenda verifikasi meliputi Site Tour ke fasilitas laboratorium dan dilanjutkan dengan pemantauan terhadap kompetensi personil, kondisi lingkungan dan akomodasi, metode dan prosedur pengujian, ketidakpastian pengukuran, kalibrasi, penanganan contoh uji, dan dokumen terkait pengendalian mutu internal.

Sejalan dengan proses pengajuan penambahan ruang lingkup yang sedang dilakukan oleh B2TKE, TUV Rheinland juga sedang mengajukan penambahan ruang lingkup sebagai Laboratorium Sertifikasi Produk (LS-Pro). "Oleh karena status akreditasi untuk penambahan ruang lingkup pengujian kualitas PV sesuai SNI 61215 di B2TKE belum selesai, maka proses verifikasi ini kami lakukan sebagai syarat penunjukan LPKMF sebagai lab uji", imbuh Deny

Pada kesempatan site tour, dilakukan pemantauan terhadap fasilitas untuk seluruh tahapan pengujian sebagai berikut:

  1. MQT 01, bertujuan memeriksa kerusakan visual pada modul.
  2. MQT 02, penentuan daya maksimum. Bertujuan menentukan daya maksimum modul setelah stabilisasi serta sebelum dan sesudah berbagai uji stres lingkungan. Untuk menentukan kehilangan daya akibat uji stres, uji reproduktivitas merupakan faktor yang sangat penting.
  3. MQT 03, uji insulasi. Bertujuan mengetahui apakah modul tersebut cukup terisolasi dengan baik antara bagian aktif dan bagian yang mudah diakses.
    1. Untuk modul dengan luas kurang dari 0,1 m2, resistansi insulasi tidak kurang dari 400 MΩ.
    2. Untuk modul dengan area yang lebih besar dari 0,1 m2, resistansi insulasi terukur dikalikan dengan luas modul tidak boleh kurang dari 40 MΩ
  4. MQT 04, pengukuran koefisien temperatur.
  5. MQT 05, pengukuran temperatur operasi modul nominal (NMOT).
    1. NMOT didefinisikan sebagai temperatur sel surya rata-rata dalam kesetimbangan pada modul yang terpasang pada rak penyangga modul surya yang beroperasi di dekat daya puncak di Standard Reference Environment (SRE): Sudut kemiringan: (37 ± 5)° , Total iradiasi: 800 W/m2, Temperatur lingkungan sekitar: 20°C, Kecepatan angin: 1 m/s
    2. Beban listrik: Sebuah beban resistif berukuran sedemikian rupa sehingga modul akan beroperasi dekat titik daya maksimalnya pada kondisi STC atau pada Maximum Power Point Tracker (MPPT).
    3. NMOT mirip dengan NOCT kecuali yang diukur dengan modul pada daya maksimum bukan tegangan terbuka. Pada kondisi daya maksimum (listrik) energi ditarik dari modul, oleh karena itu energi panas yang disebar ke seluruh modul berkurang dibandingkan dengan kondisi tegangan terbuka. Oleh karena itu NMOT biasanya lebih rendah beberapa derajat dibandingkan dengan kondisi NOCT.
  6. MQT 06, kinerja pada STC dan NMOT. Untuk menentukan bagaimana kinerja listrik modul bervariasi dengan beban pada temperatur sel dengan kondisi STC (1000 W/m2, 25°C, dengan distribusi radiasi spektral spektrum IEC 60904-3) dan pada NMOT (iradiasi 800 W/m2 dan temperatur sekitar 20°C dengan distribusi radiasi spektral spektrum IEC 60904-3). Pengukuran pada STC digunakan untuk memverifikasi informasi yang tertera pada modul surya.
    1. MQT 06.1, pengukuran pada STC. Temperatur (25 ± 2) °C dan  iradiasi (1000 ± 100) W/m2 (yang diukur dengan modul referensi yang sesuai), sesuai menurut IEC 60904-1 , menggunakan sinar matahari, atau setidaknya sun simulator kelas BBA yang sesuai dengan persyaratan IEC 60904-9. Temperatur modul di luar (25 ±2)°C dapat dikoreksi sampai 25°C dengan menggunakan koefisien temperatur dan seri IEC 60904 dan IEC 60891.
    2. MQT 06.2, mengukur pada NMOT
  7. MQT 07, kinerja pada iradiasi rendah. Untuk menentukan bagaimana kinerja modul sebagai funsi beban pada 25°C dan radiasi 200 W/m2 (yang diukur dengan alat referensi yang sesuai), sesuai dengan IEC 60904-1 menggunakan sinar matahari alami atau kelas simulator BBA atau lebih baik sesuai dengan persyaratan IEC 60904-9.
  8. MQT 08, uji eksposur luar ruangan. Untuk membuat penilaian  kemampuan awal modul surya apakah mampu menahan paparan sinar matahari di luar ruangan dan untuk mengungkapkan efek degradasi sinergis yang mungkin tidak terdeteksi pada pengujian di laboratorium.
  9. MQT 09, uji daya tahan hotspot. Untuk mengetahui kemampuan modul dalam menahan efek pemanasan hotspot, misal solder mencair atau memburuknya enkapsulasi. Kerusakan ini bisa dipicu oleh sel yang salah, sel yang tidak serasi, bayangan atau kotoran.
  10. MQT 10, uji prakondisi UV. Untuk mengkondisikan modul dengan radiasi ultra violet (UV) sebelum uji pembekuan siklus / kelembaban termal untuk mengidentifikasi bahan-bahan dan ikatan adesi yang rentan terhadap degradasi UV.
  11. MQT 11, uji siklus termal. Untuk mengetahui kemampuan modul untuk menahan ketidaksesuaian termal, kelelahan dan tekanan lainnya yang disebabkan oleh perubahan temperatur berulang.
  12. MQT 12, uji kelembaban-pembekuan. Untuk mengetahui kemampuan modul untuk menahan efek temperatur dan kelembaban tinggi diikuti dengan temperatur di bawah nol.
  13. MQT 13, uji panas lembab. Untuk mengetahui kemampuan modul untuk menahan efek jangka panjang penetrasi kelembaban.
  14. MQT 14, kekokohan terminasi. Untuk menentukan bahwa terminasi, pelekatan terminasi, dan pelekatan kabel ke badan modul akan tahan terhada tekanan yang mungkin diterapkan selama operasi perakitan atau penanganan secara normal. Uji (MQT 14.1) dan uji pada (MQT 14.2) harus dilakukan pada urutan C setelah MQT 12 seperti yang diberikan oleh aliran uji pada IEC 61215-1.
    1. MQT 14.1, retensi junction box pada dudukan permukaan
    2. MQT 14.2, uji jangkar kabel. Uji ini dapat dihilangkan jika junction box memenuhi syarat sesuai dengan IEC 62790.
  15. MQT 15, uji arus bocor basah. Untuk mengevaluasi isolasi modul di bawah kondisi operasi basah dan memastikan kelembaban dari hujan, kabut, embun atau salju cair tidak masuk ke bagian aktif sirkuit modul, yang dapat menyebabkan korosi, kegagalan pentanahan  atau bahaya keamanan.
  16. MQT 16, uji beban mekanis statis. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui kemampuan modul untuk menahan beban statis minimum.
  17. MQT 17, uji kejatuhan salju. Untuk memastikan bahwa modul ini mampu menahan dampak hujan es.
  18. MQT 18, pengujian diode bypass.
    1. MQT 18.1, pengujian termal diode bypass. Untuk menilai kecukupan desain termal dan reliabilitas jangka panjang yang relatif dari dioda bypass yang digunakan untuk membatasi efek merugikan kerentanan hot spot pada modul.
    2. MQT 18.2, uji fungsionalitas bypass diode. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk memverifikasi bahwa  diode dari sampel uji tetap berfungsi mengikuti MQT 09 dan MQT 18.1. Dalam kasus modul PV tanpa bypass  diode pengujian ini dapat diabaikan.
  19. MQT 19, stabilisasi. Stabilisasi akhir dilakukan untuk menentukan degradasi modul selama pengujian sebagaimana didefinisikan dalam kriteria lulus dalam IEC 61215-1: 2016, Ayat 7.