Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

PLTP Lahendong, Rintisan Energi Bersih untuk Indonesia

19. 01. 22
Dilihat: 1587

Peresmian PLTP 10

Pemanfaatan energi tidak terlepas dari kebutuhan sehari-hari manusia, seperti listrik. Saat ini kebutuhan listrik sebagian besar masih ditopang oleh penggunaan bahan bakar fosil yang dapat habis suatu hari nanti. Hal ini menjadi alasan bagi Pemerintahan Jokowi-JK untuk mendorong pemanfaatan energi terbaharukan (renewable energy), salah satunya adalah pemanfaatan energi panas bumi atau juga disebut geothermal energy. Pusat riset ilmu bumi Jerman Geo Forschungs Zentrum (GFZ) menyerahkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong yang berkapasitas 500 kW kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

"Kami atas nama pemerintah mengapresiasi setinggi-tingginya kerja sama dengan Jerman ini agar dilanjutkan terus," kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir di sela serah terima aset pembangkit listrik percontohan PLTP Binary Cycle 500 kW di Lapangan Panas Bumi Lahendong, Kota Tomohon, Senin (21/1).

Serah terima aset tersebut merupakan bagian dari serangkaian perjanjian antara Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI dengan Kementerian Pendidikan dan Penelitian Federal Jerman (BMBF) yang ditandatangani April 2010 di Denpasar, Bali; serta perjanjian pelaksanaan pengembangan energi panas bumi berkelanjutan di Indonesia antara GFZ dan BPPT yang ditandatangani pada bulan Juni tahun 2010.

Menristekdikti mengatakan pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan hingga mencapai 23% tahun 2025. Sampai tahun ini porsi penggunaan energi terbarukan di Indonesia baru berkisar 8% s/d 9%. "Dari geothermal sendiri baru berkontribusi 4% dari 9% renewable energy. Jadi potensinya masih sangat tinggi,"katanya .

Peresmian PLTP 8

Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wimpie Agoeng N. Aspar mengatakan setelah penyerahan aset dari Jerman ke BPPT, PLTP 500 kW Lahendong akan dioperasikan oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE)."Kami bersama PGE saat ini tengah menjalankan PLTP 500 kW di Lahendong. Alat ini hibah dari Jerman. Kami ingin alat ini bermanfaat menjadi potensi pembangkit berbasis energi bersih untuk juga menjadi model yang dapat diterapkan di wilayah berpotensi sumber panas bumi di Indonesia," kata Plt. Kepala BPPT.          Ia mengatakan pengoperasian pembangkit listrik tenaga panas bumi sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan pemanasan global. Plt. Kepala BPPT menjelaskan pula bahwa PLTP Lahendong merupakan pembangkit listrik pertama yang menggunakan sistem binary cycle di Indonesia. PLTP Lahendong juga dapat digunakan sebagai model pemanfaatan sumur panas bumi dengan uap basah yang menjadi karakteristik kebanyakan sumber panas bumi di Indonesia, terutama di wilayah Sumatera dan Sulawesi. Ia menjelaskan BPPT bersama GFZ dan PGE telah berhasil mengoperasikan PLTP 500 kW Lahendong secara terus-menerus selama lebih dari 10 bulan pada 2018.

"Hal ini menandakan kesiapan awal BPPT bersama operator dan industri dalam negeri untuk membangun PLTP di seluruh penjuru Nusantara yang memiliki sumber energi panas bumi. Kami berharap bahwa serah terima PLTP Binary Cycle dapat menjadi langkah awal bagi upaya besar memanfaatkan energi panas bumi," katanya, Bersamaan dengan acara ini juga dilaksanakan empat penandatanganan kerjasama, yaitu

Peresmian PLTP 7(a) Penandatanganan kerja sama tentang Pengkajian dan Penerapan dan Pemasyarakatan Teknologi untuk mendukung Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Pengabdian Masyarakat antara BPPT dengan Universitas Samratulangi,

(b) Penandatanganan kerja sama tentang Optimasisasi Kinerja Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Siklus Biner 500 Kilowatt di Lapangan Panas Bumi Lahendong Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara antara Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT dengan Politeknik Negeri Manado,

(c) Perjanjian Studi Bersama tentang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Siklus Biner 500 Kilowatt di Wilayah Pengusahaan Panas Bumi Lahendong, Sulawesi Utara, antara Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT dan PT Pertamina Geothermal Energy,

(d) Penandatanganan kerja sama tentang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembangkit Listrik untuk Meningkatkan Kemampuan Sumberdaya Manusia, antara BPPT dengan Politeknik Negeri Manado.

Bara Hasibuan, anggota Komisi VII DPR RI juga menyampaikan bahwa momen ini merupakan sejarah bagi Indonesia. Ia sangat bangga menjadi saksi dalam serah terima proyek ini.  Bara juga menyampaikan, bahwa Sulawesi Utara merupakan 1/3 dari sumberdaya geothermal yang ada di Indonesia selain di pulau Sumatera dan lainnya.

"Saya berharap di tahun 2025, Indonesia dapat mengefisiensikan penggunaan energi dengan menggunakan energi yang terbarukan. Proyek ini sungguh sangat bermanfaat untuk pulau atau daerah terluar di Indonesia. Saya juga berkomitmen, sebagai wakil DPR, untuk selalu mendukung perkembangan teknologi seperti ini, sebagaimana Sulawesi Utara sangat kaya akan sumberdaya geothermal, dan berharap energi geothermal ini akan menjadi sumberdaya energi utama di masa depan", ungkapnya.

Pada kesempatan ini,  Gubernur Sulawesi Utara juga  mengungkapkan ucapan terima kasih kepada GFZ dan PGE karena dapat memiliki pembangkit tenaga listrik yang berasal dari geothermal, dimana selama ini tenaga panas bumi sudah digunakan sebesar 120 MW dari penelitian geothermal ini.

Duta Besar Jerman, Peter Scoof,  juga mengungkapkan bahwa kerjasama ini merupakan komitmen Pemerintah Jerman untuk mengurangi dampak perubahan iklim (climate change) melalui pemanfaatan geothermal yang diserahkan hari ini. Di Indonesia terdapat 2,5 GigaWatt potensi geothermal yang dapat dimanfaatkan dan pemerintah Jerman sudah berkontribusi total bersama-sama peneliti terbaik di Indonesia dalam  pengembangan geothermal, untuk mengurangi emisi sehubungan dengan pengurangan dampak perubahan iklim dunia. “Kami berharap di masa yang akan datang prototipe ini dapat diduplikasi dan replikasi (multiplier effect) di seluruh Indonesia", ungkap Schoof.

Kegiatan serah terima ini juga dihadiri  oleh Gubernur Sulawesi Utara dan Walikota Tomohon yang keduanya juga menyampaikan sambutan, serta perwakilan dari Kemenristekdikti (Jumain Appe Direktur Jenderal Penguatan Inovasi dan Hotmatua Daulay), Pertamina Geothermal Energi (PGE), Pemerintah Daerah Manado, Komisi VII DPR, GFZ (Geo Forschungs Zentrum / German Research Center for Geosciences), BMBF dan Kedubes Jerman di Indonesia, PLN, ESDM, Universitas Samratulangi, Universitas Manado, dan Politeknik Negeri Manado.