Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

Tentang Jargon 'Lolos Uji', B2TKE: Perlu Diklarifikasi

18. 07. 13
Dilihat: 1099

Energy SaverSebagai lembaga dengan tugas dan fungsi melakukan pengkajian dan penerapan teknologi, BPPT menjadi rujukan masyarakat terhadap muncul dan berkembangnya teknologi baru di Indonesia. Guna mendukung fungsi tersebut, melalui unit teknis di bawahnya, BPPT memiliki fasilitas laboratorium untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Diantaranya adalah Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE), dalam melaksanakan fungsi layanan teknologi konversi energi, B2TKE memiliki tiga laboratorium pengujian terakreditasi ISO 17025, yakni Laboratorium Pengujian Komponen dan Sistem Fotovoltaik (LPKSF)Laboratorium Pengujian Emisi (LPE) dan Laboratorium Pengujian Peralatan Listrik Rumah Tangga (PERMATA). Sementara menyusul dalam proses akreditasi, Laboratorium Pengujian Pemanas Air Tenaga Surya dan Laboratorium Pengujian Pengkondisi Ruangan (Air Conditioner).

Ditemui di Kantor B2TKE (12/7), Kepala Bidang Layanan Jasa Teknologi B2TKE, Arie Rahmadi menyatakan fungsi laboratorium pengujian di B2TKE adalah memberikan layanan jasa kepada masyarakat dan industri pengguna. “Industri PLTS menggunakan hasil uji LPKSF untuk syarat ikut tender, industri pembangkit menggunakan hasil uji LPE untuk lihat kadar emisi yang mereka hasilkan, biasanya untuk evaluasi dan syarat proper”, ujar Arie.

 “Laboratorium PERMATA juga ditunjuk oleh Kementerian ESDM sebagai lembaga penilaian kesesuaian untuk membubuhkan label hemat energi lampu swabalast. “Hasil uji B2TKE dijadikan acuan bagi ESDM untuk melabeli, kita (B2TKE) hanya mengujikan dan mereka (ESDM) yang memberikan label”, tuturnya.

Arie juga menambahkan bahwa Pemerintah melalui BPPT dalam hal membuat laboratorium uji, tidak untuk menyulitkan kalangan bisnis, tapi memastikan untuk melindungi masyarakat dari beredarnya produk di bawah standar, melindungi produk lokal melalui penggunaan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan mendorong produk lokal untuk bersaing di pasar ekspor.

Pengujian yang dilakukan di laboratorium uji B2TKE, mengacu pada metode dan standar tertentu yang telah ditetapkan. Manajer Mutu B2TKE, Cahyadi menyampaikan bahwa hasil pengujian adalah interpretasi dari kesesuaian atau ketidaksesuaian terhadap standar. “Bila di standar tidak menyatakan kriteria lolos atau tidak lolos, maka tidak kita nyatakan”, jelas Cahyadi.

Lebih lanjut, menanggapi adanya produk Energy Saver di pasaran yang mencantumkan jargon ‘Lolos Uji BPPT’, Cahyadi menegaskan, “Perlu diklarifikasi, bahwa berdasarkan prosedur standar uji laboratorium PERMATA, B2TKE tidak pernah menyatakan produk Energy Saver manapun yang telah kami (B2TKE) uji itu lolos uji”. (umum)

 

Baca Juga:

http://www.b2tke.bppt.go.id/index.php/id/146-energy-saver-benarkah-dapat-menghemat-penggunaan-energi-dan-biaya-listrik